Ada sebuah kisah menarik dari kisah hijrahnya Rasulullah dari Makkah
ke Madinah. Seyogyanya orang yang berpindah ke tempat baru, maka hal
pertama yang seharusnya dilakukan adalah membAngun tempat tinggal yang
baru. Akan tetapi bagi Rasulullah, membangun masjid ternyata lebih
penting.
Dalam Sirah Nabawiyah disebutkan bahwa Rasulullah menumpang
terlebih dahulu di rumah salah seorang penduduk Ansar selama 7 bulan.
Setelah pembangunan masjid selesai barulah Rasulullah membangun rumah
beliau di Madinah. Mengapa Rasulullah lebih mendahulukan masjid? Bagi
Nabi, fungsi masjid bukan hanya tempat beribadah semata. Nabi Muhammad
berpikir visioner. Zaman islam yang gilang-gemilang akan dimulai dari
sini. Masjid benar-benar dimakmurkan pada saat itu. Tidak hanya untuk
shalat 5 waktu saja, tetapi kerja-kerja membangun peradaban dipusatkan
di sini
Tetapi sayang, umat Islam sekarang sepertinya kurang mengambil spirit
dari sirah di atas. Kebanyakan masjid saat ini sebatas difungsikan
untuk kegiatan ibadah saja. Padahal banyak aktivitas produktif yang bisa
dilakukan di masjid, dari diskusi ilmiah sampai pembangunan ekonomi
umat. Semua bisa dilakukan di masjidi. Seharusnya pengaruh masjid tidak
hanya pada jamaah shalat saja tetapi mampu menyinari lingkungan sekitar.
Cahaya masjid menerangi masyarakat sekitarnya hingga masuk ke
celah-celah rumah, menembus dinding rumah dan dinding hati
masyarakatnya. Ayat di bawah ini bisa memberikan jawaban bagaimana
ciri-ciri masjid yang produktif beserta para pemakmurnya.
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat,
menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah,
maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang
yang mendapat petunjuk” (At Taubah 8).
Menurut Hamim Thohari (2007), ciri-ciri orang yang memakmurkan masjid
sesuai dengan ayat dia atas adalah (1) beriman kepada Allah dan hari
kemudian (visioner), (2) mendirikan shalat (berkarakter), (3) menunaikan
zakat (pengembangan berkelanjutan), (4) tidak takut kepada siapapun
kepada Allah (konsisten). Sayangnya, semangat umat Islam pada umumnya
belum betul-betul dengan semangat memakmurkan masjid seperti ayat
tersebut. Umat Islam pada saat ini malah sering terjebak pada kemegahan
bangunan masjid, kurang memperhatikan fungsi dan peran masjid.
Dari berbagai pemaparan di atas, dapat kita ambil benang merah bahwa
untuk mengembalikan kejayaan Islam, maka masjid adalah pusatnya. Pada
zaman Rasulullah SAW seperti yang dikutip Ahkam Sumadiana dari Kauzar
Niazi (Role of the Mosque 1976), masjid telah difungsikan sebagai
berikut
1. Tempat ibadah, seperti shalat, dzikir, i’tikaf, dan sebagaianya
2. Pusat dakwah
3. Pusat keilmuan dengan berbagai kegiatan pengajaran dan pendidikan lainnya, termasuk di dalamnya perpustakaan
4. Tempat mengumpulkan dana
5. Tempat latihan militer dan mempersiapkan alat-alat lainnya
6. Tempat pengobatan para korban perang
7. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa serta musyawarah dan dialog
8. Aula dan tempat menerima tamu
9. Tempat menawan tahanan
10. Sebagai tempat membina keutuhan jamaah kaum muslimin dan kegotongroyongan di dalam mewujudkan kesejahtraan bersma
Pemberdayaan masjid inilah salah satu faktor dimulainya masyarakat
madani di Madinah yang menjadi rujukan utama berbabai peradaban. Masjid
harus dibebaskan dari “belenggu” rutinitasnya yang hanya mengurusi
peribadatan semata. Dan kita, bangsa Indonesia, memiliki potensi besar
untuk mewujudkan kembali peradaban Madinah yang dicontohkan Nabi
Muhammad. Jumlah masjid di Indonesia berjumlah kurang lebih dari 800.000
masjid (Republika, 2010). Belum lagi diambah mushola, surau, langgar
dan sejenisnya. 88 % penduduk Indonesia juga beragama Islam (Pew Forum,
2010). Bayangkan jika semua sarana dan kekuatan yang kita miliki
dipadukan untuk membangun masjid sebagi tempat utama kerja-kerja
perbaikan umat bukan hanya ritual semua, niscaya tuntaslah semua
persoalan yang mendera bangsa ini.
Dan kiranya kita perlu merenungi salah satu penggalan puisi Taufik
Ismail tentang kerinduannya akan sebuah masjid, sebuah masjid yang
senantiasa hidup, sebuah masjid pembangun peradaban
Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
tempat orang-orang bersila bersama
dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka
dan pendapat bila berlainan namun tanpa pertikaian
dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
dalam simpul persaudaraan yang sejati
dalam hangat sajadah yang itu juga
terbentang di sebuah masjid yang mana
tumpas aku dalam rindu
mengembara mencarinya
di manakah dia gerangan letaknya
(Taufik Ismail, Mencari Sebuah Masjid)

No comments:
Post a Comment